Skip to content

Laskar Pelangi

Boleh lah sampiyan melempar apa saja ke monitor sendiri, karena membaca artikel ini. Karena pasti sudah basi sekali. Basi seperti sudah berbulan-bulan tidak diangkat dari jemuran. Lho koq? nyambungnya kesitu ? :D

Apa sih yang sebenarnya ingin saya tulis. Ya apa lagi, buku ajaib itu. Laskar Pelangi dan tetraloginya. Saya benar-benar seperti keledai dungu yang tidak melihat rumput menghijau di depan mata siap dimakan. Sedari dulu saya sering diberi tahu oleh hampir semua orang yang saya kenal, buku itu bagus, buku itu membangkitkan semangat, buku itu seperti roh motivasi yang tercetak dalam kertas. Tapi apa reaksi saya, gak percaya !, tukang kibul kalian semua…Wong buku susah dibacanya koq dibeli. Apaan tuh pake bawa-bawa nama ilmiah dari suatu pohon atau binatang. Susah ngebacanya apalagi mengejanya. Fiuh !

Tapi ternyata, ada kejadian yang membuat saya tersentak ketika tidak sengaja membaca di halaman yang saya lupa dan bab-nya saya juga lupa. Kira-kira isinya begini di bab itu, ada kontes seperti cerdas cermat yang diadakan oleh sekolah SD Muhammadiah. Pesertanya dari berbagai sekolah yang ada di Tanjong Pandan. Tim underdog adalah tim dari SD Muhammadiah. Karena dilihat dari fisik bangunannya yang sudah seperti kandang kambing. Apalagi kalau disenggol kambing yang mau kawin, pasti rubuh. Ada keajaiban timbul disini. Ada murid bernama Lintang yang membabat habis semua pertanyaan dengan jawaban-jawaban jeniusnya. Mulai dari pertanyaan pertama sampai terakhir. Semua dijawab tanpa cela, tanpa telat dan tanpa perlu bantuan yang lain. Single fighter.

Lintang diceritakan dalam novel ini, sebagai sosok penuh keinginan untuk maju dengan bersekolah. Keluarganya yang mengandalkan hidup dari seorang ayah yang bekerja sebagai nelayan. Dengan kewajiban menafkahi mulut banyak orang yang tinggal bersama dalam satu atap. Lintang, yang setiap hari harus menempuh 30 km dari rumah untuk ke sekolah. Lintang, yang sewaktu didaftarkan ayahnya ke sekolah, tidak bisa memegang pensil. Lintang, yang ayahnya pun tak yakin dengan keputusannya menyekolahkan anaknya akan membawa hasil sebagai penopang penggantinya dengan jalan sekolah.

Bab itu bisa membuat saya seperti tersengat api panas di dalam besi yang ditempel dibokong. Terlompat, terlonjak seperti orang yang bertemu kekasihnya yang sudah dirindukan bertahun-tahun tak berjumpa. Air mata sempat menetes sewaktu membaca bab ini. Apalagi setelah menonton dari youtube. Terlalu melankolis. Begitulah, keledai dungu ini terlambat menangis, terlambat terlonjak dan terlambat yang lain.

3 Comments

  1. kurnia_1 wrote:

    Sampeyan baru mbaca sekarang to kang ? Saya malah dah mbeli tahun yang lalu.. sayangnya saya juga belum mbaca he..he.., lha bukunya sudah diangkut ke maumere oleh istri saya bersama buku-buku yang lain..

    Posted on 01-May-08 at 6:14 am | Permalink
  2. setiaji wrote:

    To Kurnia_1 : Lah iya :D wong mbacanya pertama kali aja udah kayak gitu ribetnya, sering keseleo lidah bahasa latinnya. Jadi males deh. Itu kesan pertama. Tapi tiba-tiba…. :D sontak kaget.

    Posted on 02-May-08 at 6:13 am | Permalink
  3. tanti wrote:

    Kalau masih pingin lihat karya hirata yang lain, lihat aja di situs www.rumahdata.net.

    Posted on 12-Jun-08 at 3:35 pm | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*
AJAXed with AWP